Kabar PGRI Barat

Hebat! Norwegia Berani Membatasi AI demi Masa Depan Anak-Anak

Admin PGRI
9 Juli 2026
512 Pembaca
Hebat! Norwegia Berani Membatasi AI demi Masa Depan Anak-Anak

Belakangan ini saya sering mendengar kalimat, "Sekarang kan sudah ada AI, jadi belajar akan lebih mudah." Kalimat itu memang ada benarnya. Teknologi telah banyak membantu pekerjaan kita, termasuk di dunia pendidikan. Namun sebagai seorang guru, saya juga mulai melihat sisi lain yang patut kita waspadai.

Beberapa waktu lalu saya membaca kabar bahwa Norwegia akan membatasi penggunaan AI generatif bagi siswa sekolah dasar, mulai kelas 1 sampai kelas 7. Jujur saja, saya tidak terlalu terkejut. Bahkan, saya bisa memahami alasan di balik kebijakan tersebut.

Setiap hari kami para guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran. Tugas kami jauh lebih besar, yaitu melatih anak-anak agar mampu berpikir. Dan kemampuan berpikir itu tidak lahir secara instan.

Saya lebih senang melihat seorang siswa yang berusaha menyelesaikan soal dengan caranya sendiri, meskipun jawabannya belum sempurna, daripada siswa yang langsung memberikan jawaban benar hasil bantuan AI tetapi tidak memahami apa yang sedang ia kerjakan.

Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Dari jawaban yang keliru, anak belajar memperbaiki diri. Dari tulisan yang masih berantakan, mereka belajar menyusun gagasan. Dari membaca buku yang mungkin terasa membosankan, mereka melatih kesabaran sekaligus memperluas cara pandang. Semua proses itu tidak bisa digantikan oleh satu tombol "Generate".

AI memang luar biasa. Dalam hitungan detik, ia bisa membuat rangkuman, menjawab soal, bahkan menulis esai yang terlihat meyakinkan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa diberikan AI kepada anak-anak, yaitu pengalaman berpikir.

Saya khawatir jika sejak kecil mereka terlalu terbiasa menerima jawaban instan, kemampuan untuk bertanya, menganalisis, dan menyimpulkan justru akan semakin tumpul. Padahal, keterampilan itulah yang akan mereka butuhkan ketika menghadapi persoalan nyata di kehidupan.

Di Indonesia sendiri, kita sedang bersemangat membawa teknologi masuk ke sekolah. Itu tentu bukan sesuatu yang salah. Saya juga percaya teknologi dapat menjadi alat belajar yang sangat bermanfaat.

Namun, menurut saya, jangan sampai ukuran sekolah yang baik hanya dilihat dari banyaknya perangkat digital yang dimiliki. Sekolah yang hebat bukan karena setiap siswanya memegang tablet atau laptop, melainkan karena siswanya memiliki rasa ingin tahu, gemar membaca, berani bertanya, dan mampu menyampaikan pendapat dengan baik.

Yang lebih saya khawatirkan adalah ketika anak terlihat sangat mahir menggunakan aplikasi, tetapi kesulitan membaca beberapa halaman buku tanpa kehilangan fokus. Mereka cepat menemukan jawaban, tetapi bingung ketika diminta menjelaskan alasan di balik jawaban tersebut.

Menurut saya, inilah yang sedang diingatkan oleh Norwegia. Mereka tidak sedang memusuhi AI. Mereka hanya ingin memastikan bahwa teknologi tetap berada pada tempatnya, yaitu sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses belajar.

Sebagai guru, saya berharap kita tidak terburu-buru mengejar semua hal yang tampak modern. Literasi membaca, kemampuan menulis tangan, kebiasaan berdiskusi, dan berpikir kritis tetap harus menjadi pondasi pendidikan. Setelah pondasi itu kuat, anak-anak akan jauh lebih siap memanfaatkan AI secara bijak.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal dengan cepat. Pendidikan adalah tentang membentuk manusia yang mampu berpikir sendiri, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan tidak mudah percaya begitu saja pada setiap informasi yang diterimanya.

Teknologi akan terus berkembang. AI pun akan semakin cerdas. Tetapi saya berharap, anak-anak kita tetap menjadi generasi yang tidak kehilangan kemampuan paling mendasar, yaitu menggunakan akal pikirnya sendiri sebelum meminta mesin untuk berpikir menggantikannya.

By : Aris Suharyanto (SD IT Khoiro Ummah)

Bagikan Kabar PGRI:

Bagikan Berita Ini

Info: Khusus untuk Instagram & TikTok, silakan klik ikonnya untuk otomatis menyalin link berita, lalu tempelkan (Paste) pada Story atau Bio Anda.

Kolom Interaksi

Aktivitas Diskusi Publik

Partisipasi Komunitas

Masuk dengan akun Google untuk ikut berdiskusi

Belum ada tanggapan publik